12 September 2016

06.39

Kamu tulus. Sangat tulus.

Aku terdiam. Berpikir — ada manusia setulus kamu.

Kamu tersenyum. Aku tersipu malu.

Aku merenung. Berpikir — mengapa kamu masih membutuhkanku, masih menginginkanku.

Kamu tertawa. Aku tersenyum.

Aku terpaku. Berpikir — apa kurang aku mengungkapkan rasa terima kasih kepada kamu; yang masih saja memaafkan aku?

Kamu mendekat. Aku tidak bergerak.

Dalam jarak pandangku hanya ada kamu. Sekarang — di pikiranku hanya ada kamu.

"Apa kamu akan pergi?"

Aku tahu suatu hari nanti kamu akan pergi.

Entah sehari, seminggu, sebulan, setahun, semasa depan lagi... Yang jelas, aku tahu kamu akan pergi.

Namun aku tahu pasti bahwa itu urusan sang alam. Bukan lain pula ulah sang waktu.

Kamu tertunduk. Aku tersadar.

Aku egois. Karena aku tidak ingin kamu pergi. Begitu juga kamu. 
Kamu egois. Karena kamu ingin aku tetap disini. Begitu juga aku.

Namun biarlah;

Sebelum kita tak kuasa egois lagi;

Sebelum kita hilang ditelan semesta;

Sebelum terlambat sudah semuanya;

Pegang tanganku. Jangan lepaskan. Abadikan jari-jemari ini. Sebelum terlepas dari genggaman.

Aku melayangkan beribu terima kasih. Kamu mendekap ragaku.

Aku menghela nafas. Kamu menutup matamu.

Kamu berarti. Sangat berarti.

Aku berharap. Kamu berdoa.

"Jangan pergi. Jangan pergi."

You Might Also Like

0 komentar

.

.